Minggu, 26 Oktober 2014

Apakah hepatitis A bisa berubah menjadi hepatitis B, C dll?

Pertanyaan : 
ada kemungkinan hepatitis A naik tingkat jd hep B/ C gak dok?
Jawaban :
hepatitis adalah infeksi pada liverr(hati) yg biasanya disebabkan oleh virus.(penyebab lain karena alkohol/obat2an)..
hepatitis a,b,c,d,e bukanlah tingkatan penyakit..tetapi berbeda jenis dan berbeda virus penyebabnya..
begitupun bukan berarti hep.E adalah yg terparah ..tidak..
pada hep. A kemungkinan sembuh..perbaikan klinis 3-6 bulan..walaupun banyak kasus yg relaps(kambuh)..
faktor umur(tua), kehamilan, penyakit hati sebelumnya merupakan faktor resiko komplikasi gagal hati..
saran: periksakan diri anda ke dokter untk mengetahui apakah gejala anda karena hepatitis yg relaps atau karena penyebab lain seperti typhoid(tipes), dbd, atw masuk angin biasa..
biasanya dokter memberikan nutrisi liver .. hindari kelelahan yg terus menerus..jaga agar tubuh anda tetap vit ..
hindari makanan yg tidak higienis (warung,warteg yg banyak lalet)dan makanan2 mengandung vetchin/penyedap rasa..
semoga membantu..

 Anda Punya pertanyaan seputar masalah kesehatan ? tuliskan pertanyaan anda di kolom komentar

Rabu, 22 Oktober 2014

penggunaan ekstrak cacing untuk obat tifus

apakah penggunaan ekstrak cacing untuk obar tifus benar ? apakah info tersebut mitos atau fakta kesehatan ? berikut dokter oz akan mengulas informasi yang telah lama beredar di masyarakat tersebut

Penyakit tifus disebabkan oleh bakteri. Dalam ilmu kedokteran, sudah ada metode standar terapi yang jelas aman dan efektif, yaitu pemberian antibiotik, tirah baring (istirahat total atau bed rest), dan diet yang mudah dicerna dan rendah serat-kasar. Dalam trilogi terapi ini, pemilihan antibiotik merupakan tahap yang sangat menentukan.

konsumsi obat tradisional yang diklaim berasal dari ekstrak cacing untuk obat tifus (demam tifoid). Biasanya dokter tidak mengizinkan pasien minum obat ini. Tapi banyak pasien yang mengonsumsinya karena merasa obat dari dokter tidak manjur. 

Kalau obat dokter tidak manjur, mungkin saja itu disebabkan oleh pemilihan antibiotik yang kurang tepat karena bakterinya sudah kebal. Asalkan diagnosis dan pemilihan antibiotiknya tepat, penyakit tifus dijamin akan sembuh apabila disertai dengan tirah baring dan pola makan yang tepat.

Jadi, dari sudut pandang ini, sebetulnya pasien tidak memerlukan ekstrak cacing. Akan tetapi, kalaupun pasien akhirnya memutuskan untuk minum esktrak cacing (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau efek obat itu terhadap kesehatannya.

Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan karena kandungan asam aminonya. Namun, dugaan ini masih belum bisa menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau sekadar kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa menggantikan ekstrak cacing.

Jadi secara medis ekstrak cacing tidak menyembuhkan infeksi bakteri / membunuh bakteri dari penyakit tifus, jadi dapat di katakan bahwa info tersebut hanya mitos, sebaiknya kita konsultasikan ke dokter agar penyakit tidak semakin parah

Faktor Penyebab Penyakit Darah Tinggi / Hipertensi

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita darah tinggi, antara lain:

1.      Usia. Makin tua seseorang, makin berkurang elastisitas pembuluh darahnya. Hampir semua orang lansia memang mengalami hipertensi sekalipun mungkin derajatnya berbeda-beda. Pada kaum hawa, kondisi hipertensi biasanya mulai muncul setelah menopause (mati haid).  

2.      Keturunan. Faktor nasib ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Namun, ini tidak berarti bahwa anak penderita hipertensi PASTI akan menderita hipertensi. Hanya saja, peluangnya memang lebih besar.

3.      Konsumsi garam tinggi. Kandungan utama garam adalah mineral natrium (dalam bahasa Inggris disebut sodium). Mineral ini akan menyebabkan air tertahan di pembuluh darah. Makin banyak garam yang kita makan, makin besar volume cairan darah di pembuluh, sehingga makin tinggi pula tekanannya.

4.      Kegemukan. Makin gemuk seseorang, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke jaringan-jaringan lemak penyebat kegendutan itu. Akibatnya, volume darah yang mengalir di pembuluh pun makin besar sehingga tekanannya pun makin tinggi. Penambahan berat badan 1 kg di atas berat badan ideal diperkirakan bisa meningkatkan tekanan darah sekitar 1 mmHg. Jadi, semakin gemuk seseorang, semakin besar kemungkinanannya terkena hipertensi.

5.      Kurang aktif. Pada orang yang kurang bergerak dan jarang berolahraga, detak jantungnya cenderung lebih cepat dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga tekanan darahnya pun cenderung lebih tinggi.

6.      Kebiasaan merokok. Senyawa di dalam asap rokok bisa mempercepat kerusakan pembuluh darah sehingga elastisitasnya pun lebih cepat berkurang.

7.      Sering stres. Kondisi stres bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah sesaat. Saat stres reda, tekanan darah kembali normal. Akan tetapi jika stres berlangsung lama dan berulang-ulang, kondisi tekanan darah tinggi yang temporer ini bisa menjadi permanen. Apalagi jika penderita melampiaskan rasa “galau” dengan cara banyak makan, banyak begadang, dan merokok, maka risiko hipertensi permanen bisa menjadi berlipat-lipat. 

8.      Kurang tidur. Sama seperti stres, kondisi kurang tidur juga bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah yang sementara. Tekanan darah akan kembali normal ketika kita kembali cukup istirahat. Namun, jika kondisi kurang tidur berlangsung kronis, kondisi tekanan darah tinggi yang sementara tadi bisa berubah menjadi permanen.

9.      Kehamilan. Kondisi hamil kadang bisa menyebabkan hipertensi yang biasanya dikenal dengan preeklamsia. Hipertensi jenis ini berbahaya bagi janin tapi biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan.

10.  Konsumsi obat tertentu. Sebagian obat jika dikonsumsi dalam jangka lama mungkin (tidak selalu) bisa menyebabkan hipertensi, misalnya sebagian pil KB, sebagian obat flu dan migrain.

11.  Penyakit lain. Beberapa jenis penyakit bisa meningkatkan risiko seseorang menderita hipertensi, seperti diabetes, gangguan fungsi ginjal, dan tinggi kolesterol.
Dari daftar di atas, kita bisa melihat bahwa sebagian besar penyebab hipertensi adalah faktor-faktor yang bisa dikendalikan. Memang ada faktor yang tidak bisa diapa-apakan seperti usia dan keturunan, tapi sebagian besar lainnya adalah faktor-faktor yang bisa diubah.